Pages

Minggu, 02 Januari 2011

Aceh Dihantui Darurat Korupsi


Aktifis antikorupsi Aceh berdemo di depan gedung Pengadilan Negeri Banda Aceh saat persidangan kasus korupsi digelar beberapa waktu lalu. Mereka menyatakan, banyak dugaan kasus korupsi dibiarkan aparat penegak hukum membuat Aceh stagnan.
            Ratusan orang antri di depan pintu ruag kerja Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh setiap hari. Hampir semuanya membawa proposal bantuan. Sebagian yang datang adalah kalangan tua dengan  berkopiah dan berkain sarung, sebagian lagi anak-anak muda yang mengaku mantan tentara Gerakan Aceh Merdeka.
            Inilah satu Keistimewaan Aceh, selain Papua. Gubernur dan Wakil Gubernur memiliki kewenangan untuk menyalurkan dana bantuan social di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), yakni melalui dana kerja gubernur/wakil gubernur yang diajukan sejak tahun 2009, yang besarnya Rp 68 miliar per tahun.
           

Apa Pun Dilakukan demi “Merah Putih”



            Tim “Merah-Putih” seolah menyihir ribuan penggila bola untuk bertandang ke Senayan, Jakarta. Bahkan, merek tidak tidak ambil pusing, meskipun sudah tahu tidak bakal kebagian tiket. Para supoter sejati itu tetap berangkat ke Senayan kendati harus menginap berhari-hari di sembarang tempat.
            Di sisi utara masjid, rombongan supporter dati Makassar merabahkan badan. Wajah mereka kuyuh setelah menempuh perjalanan panjang menggunakan kapal laut.
Di pelataran Stadion Utama Gelora Bung Karno, sejumlah remaja usia belasan dai Indramayu, Jawa Barat, makan siang.
            Kehadiran para supporter dari sejumlah daerah itu semakin menyemarakkan suasana di stadion Utama Gelora Bung Karno. Di luar stadion, para supporter tim “Merah Putih” sudah berjubel sejak pagi. Mereka memadati jalan lingkar di sekeliling stadion menyanyikan yel-yel “ndonesia… Indonesia…”.Meskipun sudah disterilkan dari mobil dan  motor, jalan di sekeliling stadion tetap terasa padat. Orang harus mencari celah di antara kerumunan untuk bisa bergerak maju.
           

Merah-Putih Berkibar di Puncak Aconacagua


Setelah hamper sepuluh jam berjibaku dengan medan terjal bersalju, hawa dingin dan tipisnya oksigen, tiga pendaki tim Ekspedisi Tujuh Puncak Aconcagua (6.962 meter di ats permukaan laut), Argentina, yang menjadi titik tertinggi di daratan Amerika Selatan, senin (27/12) sekitar pukul 15.15 waktu setempat. Tangis haru pun mewarnai kedatangan mereka saat kembali ke kamp.
            Ketiga pendaki tersebut adalah Ardeshir Yaftebbi, Fajri Al Luthfi, dan Martin Rimbawan. Merek hanya 15 menit di puncak. Setelah ambil foto, langsung turun, yang menjadi ketua pendakian, begitu turun dari puncak. Dari sembilan anggota tim yang mencoba menggapai puncak dari kamp terakhir, mereka bertigalah yang akhirnya mampu mengibarkan Merah-Putih.
            Jika tidak didukung factor mental dan cuaca yang baik, pencapaian ke puncak ini nyaris tidak berhasil karena ketiganya juga didera kelelahan fisik yang luar biasa. Bahkan, Martin saat turun dari puncak harus diikatkan tali oleh pemandu karena kondisi fisiknya drop. Badannya lemas sekali, kalau tidak diikat bisa jatuh.Ini merupakan pendakian yang terberat baginya di bandingkanpuncak-puncak sebelumnya.
            Sembilan anggota tim yang terdiri atas enam pendaki, manajer tim, wartawan Kompas, dan wartawan Metro TV memulai pendakian dari kamp terakhir tempat tim menginap di Camp Cholera (5.900 mdpl), saat hari masih gelap dan beku, atau sekitar pukul 05.30 waktu setempat. Pada ,musim panas di Argentina, matahari baru terbit pukul 06.41 dan tenggelam pukul 21.08.

PBNU Usul Perlunya Utusan Golongan


Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mewancanakan kembali masuknya unsure golongan dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Terlebih partai politik (parpol) dinilai gagal mewadahi aspirasi golongan minoritas yang sudah mengakar di Indonesia.MPR memang sebaiknya tidak hanya diisi unsure yang dipilih dalam pemilu, tapi harus ada yang dating dari golongan minoritas.Ada golongan budaya, ormas keagamaan dan sebagainya yang aspirasinya juga perlu didengar.
                        Usul pembentukan unsure golongan dalam MPR sangat sulit diwujudkan karena Indonesia sudah memutuskan system pemilihan oleh rakyat dalam berdemokrasi. Meski demikian, usul tersebut merupakan bentuk tuntutan dari golongan minoritas yang terancam tidak memiliki wadah untuk meyalurkan aspirasi.Memang golongan minoritas di Indonesia terancam tidak terakomodasi dalam Parlemen. Indikasi ini sangat kuat karena parliamentary threshold (PT) akan dinaikkan hingga 5%. Maka golongan minoritas tidak memiliki ruang untuk masuk.
           

Verifikasi Tidak ke Lapangan


Mereka harus menyiapkan sendiri persyaratannya. Mekanismenya sama seperti pada verifikasi pada 2008. Bukti-bukti dibawa ke Kementrian (Hukum dan Hak Asasi Manusia) dan akan mereka cek. Kalau ragu akan kebenaran data yang dibawa,mereka akan mengecek ke Kesbang (Badan Kesatuan Bangsa). Dulu, pada 2003, kami  memverifikasi satu per satu. Tapi, itu pekerjaan yang membuat capeknya luar biasa dan mahal, “kata Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Aidir Amin Daud, Rabu (29/12).
Menurut Patrialis, kepungurusan di daerah juga akan  diverifikasi. UU parpol yang disahkan DPR pada 17 Desember lalu menyebutkan, parpol harus punya kepengurusan di seluruh provinsi, 75 persen kabupaten/kota, dan 50 persen kecamatan.
Poin krusial dalam verifikasi kepengurusan di daerah. Pihaknya pun meminta parpol untuk segera menyiapkan dokumen dan kelengkapan. Misalnya, melapotkan kepengurusan ke Badan Kesbang setempat dan ,mendapatkan surat keterangan dari Kesbang, surat itulah yang harus disertakan ke Kemhuk dan HAM.

TUGAS APOTEKER DI RUMAH SAKIT

Rumah sakit, pasti sebagian teman-teman pernah ke rumah sakit kan? apakah itu karena sakit atau hanya untuk menjenguk teman yang sakit. Pernah tau tidak bahwa sebenarnya keuntungan yang diperoleh dari RS (rumah sakit) sebagaian besar berasal dari penjualan obat dan alat kesehatan? tapi dengan catatan bila pengelolaannya dilakukan dengan baik loh. Jadi kalau begitu seorang apoteker berperan dalam pengelolaan obat di RS donk??? Yup, benar sekali. Pengelolaan itu tidak hanya mengatur arus masuk dan keluarnya obat ya tapi juga harus mengatur distribusinya ke pasien. Sebenarnya ada hal yang sering luput terkait dengan fungsi apoteker di RS, yaitu: konseling ke pasien terhadap obat yang di dapat dari resep dokter, penilaian logis tidaknya resep dokter sampai ke teknis pemberian obat ke pasien. Contoh untuk yang terakhir adalah seperti ini, kadang kita mendapatkan resep dengan berbagai macam obat (polifarmasi), dengan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki seorang apoteker, dia akan memberikan informasi kapan makan obat A, kapan makan obat B dan seterusnya. Lah kenapa harus diatur seperti itu? karena yang namanya obat pasti ada interaksi satu dengan lainnya, bisa jadi interaksi itu menguntungkan tapi yang gawat adalah jika interaksi itu malah merugikan, bukannya sembuh malah muncul sakit tambahan lainnya. Kalau di RS yang sudah berkembang sih apotekernya sudah lebih terspesialisasi sama seperti spesialisasi pada dokter, hal ini karena obat yang digunakan sudah sangat buaaanyyyaaakkk sekali.

TUGAS APOTEKER

Peran Fungsional Apoteker:

(1). Pelayanan informasi obat dan konseling
(2). TDM (Therapeutic Drug Monitoring)
(3). DTM (Drug Therapeutic Monitoring): MESO, Interaksi obat
(4). Penanganan obat-obat cytotoxic
(5). TPN (Total Parenteral Nutrition) dan iv-admixture
(6). DUE (Drug Utility Evaluation)
(7). RDU (Rational Drug Use)
(8). Produksi dan kontrol kualitas
(9). Farmakoekonomi
(10). Pelayanan farmasi bangsal
(11). Patient safety (medication error)
(12). Pelayanan farmasi rawat jalan
(13). Pengendalian infeksi (misalnya,infeksi nosokomial)
(13). Pelayanan farmasi klinik lainnya

2. Perencanaan, penyimpanan dan distribusi perbekalan farmasi :
Mampu melaksanakan perencanaan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan lain melalui pembelian dari luar atau membuat/memproduksi sendiri sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sarana yang dimiliki dan sesui dengan kebutuhan Rumah Sakit; Mampu melakukan penyimpanan obat dan perbekalan kesehatan lain secara baik sesui dengan sifat bahan; Mampu melaksanakan fungsi distribusi obat dan perbekalan kesehatan di rumah sakit dengan suatu sistem distribusi yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi Rumah Sakit
3. Teknik Aspek dan CSSD :
Mampu melaksanakn teknik-teknik aseptik seperti TPN, IV admixture, Handling cytotoxic; Mampu melaksanakan penyediaan perbekalan farmasi yang steril mulai dari proses dekontaminasi, penataan perangkat, pembungkusan, proses sterilisasi, penyimpanan dan mendistribusikannya ke ruangan-ruangan yang membutuhkan kondisi steril.

4. Farmasi Klinik :
Mampu melaksanakan fungsi farmasi klinik yang mencakup fungsi-fungsi partisipasi dalam pengambilan keputusan pemberian obat pada penderita, pemilihan obat yang tepat, penetapan regimen obat yang tepat, pemberian dan penyediaan obat, pemantauan efek obat dan pendidikan penderita.
5. Pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi serta Pusat Informasi Obat :
Mampu melaksanakan fungsi konsultasi, informasi dan edukassi yang berkaitan dengan penggunaan obat untuk penderita dan keluarganya; Mampu memberikan pelayanan informasi obat kepada berbagai pihak yang membutuhkan.
6. Tugas Khusus :
Mampu melaksanakan pembuatan tugas khusus mengenai topik-topik terpilih
7. Laporan Kegiatan Tertulis :
Mampu melaksanakan pembuatan laporan kegiatan secara tertulis

a. Menyediakan obat-obatan untuk unit perawatan dan bidang - bidang lain.
b. Mengarsipkan resep-resep baik untuk pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap.
c. Membuat obat-obatan.
d. Menyalurkan, membagikan obat-obatan narkotika dan obat yang diresepkan.
e. Menyimpan dan membagikan preparat-preparat biologis.
f. Membuat, menyiapkan, mensterilkan preparat parenteral.
g. Menyediakan serta membagikan keperluan-keperluan tersebut secara profesional.